Melihat Toleransi Kehidupan Sosial Di Maroko (oleh H Tambari)

Vimanews-TEGAL-Perjalanan diplomatik study banding toleransi kehidupan sosial dan wawasan kebangsaan ke Maroko dan Spanyol yang di pimpin Komjen Pol. Agung Budi Maryoto, ternyata menyimpan sejuta keunikan. Misalnya, salah satu peserta study banding Gus Najeh, Sekjen Alumni Syiriah (Negeri Syam), menanyakan tentang Arab Spring (Musim semi Arab).

Pertanyaan itu dijelaskan Profesor Sean Choir, perwakilan Nahdlatul Ulama (NU) Kurtural dari Jombang, Jawa Timur, bahwa Arab Spring yang sengaja diciptakan oleh Amerika, agar mampu menguasai sumber daya seperti minyak bumi yang ada di kawasan Timur Tengah. 

Uniknya, Maroko adalah salah negara di kawasan benua Afrika yang terasimilasi dengan kebudayaan Timur Tengah dan Eropa, tapi tidak kena dampak Arab Spring. Bahkan saking uniknya, justru mazab Imam Maliki dilakukan dengan pendekatan kearifan lokal, sehingga perkembangan agama Islam makin maju dan bisa diterima oleh masyarakat Maroko.

Dalam kesempatan kunjungan ke Kantor Kedutaan Besar Indonesia di Maroko, Selasa 29 Oktober 2019 pukul 15.00 waktu Maroko, rombongan perjalanan diplomatik yang berjumlah 20 orang yang masing-masing mewakili dari berbagai disiplin ilmu dan berbagai daerah, di sambut keramah-tamahan oleh Mahmuddin selaku Counsellor Economic Affairs. 

Menjawab pertanyaan Gus Najeh, Mahmuddin justru melemparkan kepada salah satu mahasiswa yang sedang kuliah di Maroko. Dijelaskan, keunikan Islam di Maroko seperti saat bewudlu, lalu masih dengan cara mazab Imam Safii yang dianut di Indonesia,  seperti mengusap rambut tiga lembar, malah ditegur oleh penjaga kebersihan.

Untuk mengulangi wudlunya dengan cara membasahi kepala, itulah mengapa ajaran Islam di Maroko tidak benturan dengan sesama penganut agama Islam. Karena penjaga kebersihan Masjid ikut mengawasi dari hal kecil tentang tata cara berwudlu sesuai ajaran Imam Maliki.

Penulis sengaja memakai kaos bertulisan Wong Tegal Anjog Maroko – Spanyol, agar nama Tegal makin populer di luar negeri, sehingga pada kesempatan kunjungan ini,  untuk lebih mengakraban nama Tegal di mata rekan-rekan peserta Perjalanan Diplomatik Study Banding Toleransi Kehidupan Sosial Dan Wawasan Kebangsaan.

Meski nama Tegal diidentikan dengan bahasa ngapak, atau Warteg yang lebih populer disudut-sudut kota Jakarta, kini nama Tegal justru lebih unik di dengar di Kota Casablanca, Maroko, Afrika.

(Tambari Gustam adalah tokoh masyarakat nelayan, seniman dan budayawan. Tinggal di Muarareja, Kota Tegal, Jawa Tengah)

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

error: Content is protected !!