Pasca Muktamar, NU Jangan Digadaikan Ke Partai

IMG_20150927_125012

BREBES. Pasca Muktamar NU ke-33 di Jombang Jawa Timur, keberadaan NU diberbagai daerah ditengarai mendapat usikan menggelitik dari partai politik. Antara lain partai telah berupaya mencoba memberi asupan gizi berupa suntikan dana operasional organisasi dengan besaran yang bervariasi.

Namun, rayuan partai tersebut hendaknya jangan sampai, menjadikan NU tergadaikan ke partai, karena tidak ada untungnya sama sekali.

Pemikiran tersebut disampaikan Rais Syuriyah PW NU Jateng KH Ubaidillah Sodaqoh sehingga dia menentang keras, keterliban partai di dalam tubuh NU.

Dengan tegas dia menolak keras NU diutak-utik oleh partai, karena mengganggu kepentingan NU dan umatnya.

Kalau NU sudah terkontaminasi partai, maka akhlak NU menjadi akhlak partai. Semuanya diukur dengan besaran duit, tandas Kiai Ubaidillah saat menjadi nara sumber silaturahmi Kader Penggerak NU Jawa Tengah di Aula Pondok Pesantren Al Falah Jatirokeh, Songgom, Brebes Sabtu sore (26/9/15).

Menurut Gus Ubed, demikian sapaan akrabnya, NU tidak kekurangan dana dalam setiap penyelenggaraan organisasi. Pribadi-pribadi anggota NU, sangat senang bersodakoh untuk mengurusi NU dan atau badan otonom lainnya. Dan itu jauh lebih bermartabat bila harus merengek pada legislative ataupun eksekutif. Setiap kali kegiatan, kita sudah biasa jimpitan. Dari hasil jimpitan itu, justru nilainya lebih besar dibandingkan dengan pemberian partai.

Menurut Gus Ubed kalau NU sudah terkontaminasi partai tertentu, tidak independen dalam berbagai sisi politik maka akan terjadi pecah belah ditubuh NU, NU bisa hancur.

Gus Ubed menghendaki adanya kedewasaan dalam berpolitik. NU netral ya tetap netral untuk memperjuangkan politik kebangsaan NU. Jangan sampai personil-personil menjadi sakit hati lantaran jauh panggang daripada api.

Gus Ubed terang-terangan, menceritakan kalau dukungan NU ke Ganjar Pranowo misalnya, saat pilkada dulu begitu besar. Tetapi setelah jadi, apakah Ganjar dalam membuat kebijakan selalu bertanya dulu ke PWNU? Kan tidak? Contoh kecil tentang kebijakan lima sekolah, yang dinilai sangat banyak mudlaratnya.

“Gubernur tidak pernah menanyakan dulu kepada PW NU tentang sisi baik buruknya 5 hari sekolah,”ujarnya.

Kepada kader penggerak NU, Gus Ubed mendorong kepada mereka untuk terus bergerak melakukan gerakan-gerakan pembaharu agar NU tetap menjadi yang terbaik dan murni Khitahnya seperti tahun 1926.

Kader penggerak NU juga jangan sungkan-sungkan untuk mengkritisi NU. Berani ngeyel, bukan berarti berani kurang ajar.

Dia menambahkan, untuk mengurusi NU itu tidak harus dari kalangan partai ataupun eksekutif.

Karena NU organisasi partisipatoris, artinya organisasi yang mengedepankan kebangkitan (Nahdlah), bergerak. Maka siapapun yang ikhlas menggerakan NU, yang berjasa pada NU akan menjadi pemimpin NU.

Memimpin NU itu berbasis kinerja, bukan berbasis benda.

Pada kesempatan yang sama Ketua Kader Penggerak NU Jateng Moh Isbik menjelaskan, silaturahmi diikuti 35 kader penggerak NU Jateng perwakilan dari PC NU se Jawa Tengah. Gelaran ini mengusung tema membangun kader professional pasca Muktamar.

 

Dengan pertemuan ini diharapkan para kader bisa menjadi suluh di daerahnya masing masing sehingga NU makin bangkit dan menyelematkan NU dari rongrongan pihak luar maupun dalam.[Ita]

 

 

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

error: Content is protected !!