Penghasilan Menurun Drastis, Tukang Becak Di Brebes Berharap Pemerintah Batasi Ojek Online

Vimanews-BREBES – Menelusuri potret kehidupan masyarakat kita tiada habisnya. Begitu pula ketika berhadapan dengan kehidupan masyarakat ekonomi lemah seperti kehidupan yang berprofesi tukang becak.

Dengan mengandalkan kekuatan fisik, para tukang becak kayuh becak sebagai ladang kehidupan mereka dan keluarganya. Puluhan hingga ratusan meter rela mengayuh dengan beban tumpangan yang cukup berat.

Begitulah yang dirasakan Daryono, warga Desa Gandasuli yang telah lama berprofesi sebagai tukang becak di depan RSUD Brebes. Penghasilan tak seberapa terus dijalaninya demi menghidupi istri dan ketiga anaknya.

Tidak berbeda jauh dengan Daryono, Samlawi, Pria (40), harus bekerja keras dengan mengayuh becak demi pendidikan anaknya yang telah menunggak selama empat bulan.

Saat wawancara berlangsung, mereka sama sekali belum memperoleh penghasilan dari profesinya sebagai tukang becak karena mereka dari pagi belum satupun mengangkut penumpang.

Penghasilan mereka tidak menentu. “Saat belum ada ojek, penghasilan bisa mencapai sekitar Rp 100 ribu per hari,” ungkap Samlawi.

Kondisi penghasilan mereka menurun drastis setelah adanya ojek.

“Sehari dapat Rp. 50 ribu pun masih untung, padahal kebutuhan paling engga Rp. 60 ribu – Rp. 70 ribu sehari,”kata Dul Hadi (45), tukang becak lain yang berada di sekitar SPBU Jl. A. Yani, Brebes,” ujarnya.

Mereka menilai penurunan penghasilan karena adanya ojek, bahkan sekarang ditambah lagi adanya ojek online, seperti GoJek ataupun GrabBike dimana setiap penumpang lebih mudah memesan kendaraan transportasinya.

Para tukang becak menyadari bahwa para tukang ojek pun sama-sama mencari penghasilan, sehingga mereka berharap adanya tukang ojek dibatasi jumlahnya.

Dengan penghasilan rendah sebagai profesi tukang becak, alternatif pekerjaan lain pun sebatas buruh tani.

“Orang seperti saya mau kerja apa?, istilahnya buruh tani tidak punya keahlian apa,”ucap Samlawi.

Mereka pun mengandalkan para penumpang yang tidak menggunakan aplikasi jasa antar online seperti GoJek maupun GrabBike.

Para penumpang tersebut seperti orang tua, anak-anak sekolah yang tidak memiliki smartphone. Tumpukan wadah air pun mereka rela angkut demi tetap berpenghasilan.

Selain dikuranginya jumlah ojek, para tukang becak pun berharap ke Pemerintah agar profesi tukang becak memiliki tarif standar pembayaran.

“Ya tukang becak penghasilannya ada standarnya lah,” ujar Slamet Riyadi (54), menambahkan harapan soal penghasilan profesi tukang becak. (Bayin)

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

error: Content is protected !!